Horizontal Menu HTML Helps

Tuesday, April 22, 2014

Santolo Journey 2, With the Girls

Salah satu pantai cantik di tepi selatan pulau Jawa.

Kami berangkat dari bandung sekitar pukul 14.30, mengendarai bus tiga-per-empat yang ngetem lama sekali di depan terminal. Bus menuju terminal Guntur, Kota Garut. Mungkin setelah 30 menit bus ini sepenuhnya berangkat. Menempuh 3 jam perjalanan melewati pemandangan gunung-gunung di garut yang mengesankan. Di daerah Leles ada satu gunung yang tampak seperti karpet hijau. Didominasi spesies rumput garut dengan sedikit saja pohon. Menurut domba lokal, mungkin tempat ini disebut Paradise Inn. Perjalanan menuju garut menurut sopir memakan waktu sekitar 2 jam. Sedikit chit-chat dan beberapa lagu di playlist cukup untuk mengisi waktu hingga akhirnya kami sampai di terminat Guntur, Garut.

Orang terminal memang cekatan. Mulai dari cekatan bikin dompet hilang, sampai cekatan bikin calon penumpang berpikir angkutan umum mereka adalah kereta terakhir menuju nirwana. Kami langsung ditawari untuk naik ke salah satu Elf a.k.a elep. Sebelum kami menawar harga, pemilik Elf yang ternyata seorang kondektur berjalan cepat menuju Elf-nya, berpura-pura tidak mendengar pertanyaan kami tentang harga. Disanalah kami, berunding ongkos dengan sopir Elf. Saya tidak akan bercerita tentang bagaimana centil nya teman perempuan saya menggoda sopir Elf, dan bagaimana saya pura-pura pasang muka gahar. Palu diketuk setelah peserta menawar 160 ribu untuk 6 penumpang menuju pantai. Akhirnya kami mendapat tiket menuju pantai. Sebagai Elf terakhir mereka memanfaatkan kesempatan untuk menjejalkan penumpang sebanyak-banyaknya ke dalam Elf, kami dianggap ikan asin. Teman-teman duduk di dalam Elf, tapi saya terpaksa duduk di atap Elf.

Duduk di atap ternyata tidak buruk juga, saya menikmati pemandangan yang luar biasa menarik, mulai dari pemandangan alam sampai jalan sepanjang gunung menuju pantai. Jaket tidak saya pakai karena udara tampaknya hangat. Pemandangan di luar sana begitu cantik, tapi dataran yang semakin tinggi membuat saya terpaksa merangkul tas entah milik siapa. Saya rangkul erat di dada, saya kedinginan. Untung saja Elf berhenti sesaat di tempat makan, jadi saya sempatkan pinjam jaket milik adik dan teman saya. Saya tidak akan cerita tentang muka saya yang pucat diterpa angin dan badan yang mengigil. Ini tidak lama, setengah jam sebelum sampai pantai (3 jam perjalanan) semua penumpang (selain kami) berhenti di desa pamengpeuk. Akhirnya saya bisa turun ke kabin, menikmati kehangatan dan semerbak sisa wewangian ikan sepat penduduk kabin. Sang sopir ternyata baik, mau mengantarkan kami hingga berhenti di salah satu peginapan di tepi pantai, pantai Santolo. Total perjalanan memakan waktu sekitar 9 jam. Kami sampai di depan penginapan.

Penginapan disana cukup terjangkau. Harga mungkin sama di semua penginapan. 150 ribu untuk kamar 1 bed (km luar), 200 ribu untuk kamar 2 bed (km luar), dan 250 ribu untuk kamar 2 bed (km dalam). Kami pilih kamar 2 bed dengan kamar mandi luar. Cukup untuk menampung 6 orang dengan nyaman. Well, nyaman seadanya cukup untuk backpacker. Sementara teman-teman tidur di dalam kamar, saya memilih tidur di luar sambil ngecas baterai hape yang nyawanya tinggal satu bar, tidak ada colokan listrik di dalam kamar kami. Kami tidur tidak lama, sekitar pukul 04.00 saya mendengar jejak langkah ringan menuju jendela lobi, ternyata salah seorang teman saya Ipatt sudah mulai bangun. Sontak saya ikut bangun lalu mandi kilat, saya sudah tidak sabar menunggu tenggelam dalam keindahan suasana pantai.

Mungkin ada kawan yang butuh informasi cepat untuk pulang dari pantai ini, mudah saja. Ada angkot dari pantai yang bisa disewa dengan harga 5000 per orang, minta saja sopirnya untuk mengantarkan sampai bis menuju Bandung. Bis tersebut berangkat sebelum pukul 12.00, jika terlewat maka anda harus menumpang Elf. Elf menuju bandung biasanya memasang tarif Rp. 50 ribu per orang. Kalau agan-agan bisa nawar, harga itu turun jadi 40 ribu per orang. Nah kalau mau lewat jalan pintas (melewati antah-berantah tarogong) tambah lagi 5 ribu per orang. Jadi 45 ribu per orang melewati jalan pintas bebas macet sampai terminal leuwi-panjang bandung. Perjalanan memakan waktu sekitar 7 jam. Ya, saya lanjut dengan cerita pengalaman menakjubkan selama berada di pantai Santolo.

Segera setelah mandi saya bermaksud membangunkan sisa prajurit. Ternyata hanya kedua adik saya yang belum bangun. Maklum, kami keluarga berotak besar. Semakin besar mesinnya semakin lama waktu tidurnya, hehehe. Akhirnya saya bangunkan adik saya yang besar, Wita. Lalu saya tepuk adik saya yang kecil, Mega. Ini bukan jam bangun yang biasa bagi Mega, butuh perjuangan untuk keluar dari dunia mimpi (Ingat film Inception). Tapi karena debur ombak pantai cepat sampai ke telinga, Mega semangat untuk turun ke pantai. Kami membuat jejak di bibir pantai, kami sampai di pantai paling awal.

Saya tidak akan bercerita lebih banyak tentang keindahan pantai ini, yang jelas Anda patut merasakan keindahannya.

Friday, October 25, 2013

Cerita

Dunia itu penuh cerita,
Kadang ingin loncat dari lantai 60,
kadang bikin senyam-senyum sendiri.
Kemarin menyenangkan,
hari ini pasang topeng, supaya tetap menyenangkan.
Kemarin tentang persahabatan, hari ini tentang cinta,
besok tentang karir, atau keluarga?
Kalo dongeng punya happy ending,
hidup justru mirip tracking.
Gatau udah dimana, yang jelas lagi naik.
Kadang ketemu lumut, gabisa bicara,
tapi kalo kita tahu, dia nunjukin arah.
Kadang ketemu beruang, berhenti, saling tatap,
jangan ganggu teritorinya, jalan aja terus.
Jalan dengan keyakinan walaupun dikejar perasaan dihantui.
Cerita belum berhenti,
tapi gw tau, endingnya mirip dongeng.



Listening to: Emi Fujita – Wishes

Wednesday, July 24, 2013

Si Bapak Itu Udah Bayar?

Bel kantor berdering keras tepat pukul 1200. Waktunya sayaberburu makan siang. Tidak banyak tempat yang buka di bulan puasa, hanya adasatu warung nasi kecil, warung mi, dan kafetaria kecil. Saya putuskan untukmampir di warung mi, ini kali ketiga saya makan disini bulan ini. Setelahmemesan menu kari kesukaan saya, saya mengintip di balik tirai penutup seoranganak muda, mungkin masih mahasiswa, duduk makan. Sebut saja anak muda ini si Boy. Si Boy tampaknya berasal dari golongan mampu, melihat tampangnya yang agak gemuk, dan motornya yang lumayan berkelas.

Beberapa saat kemudian si Boy keluar dari penutup dan berjalan menuju si penjual. Bayar makan pastinya. Tanpa maksud menguping sayamendengar si Boy bertanya pelan pada si penjual:”Si Bapak itu sudah bayar?”.Saya yakin anda bias menebak apa yang akan dilakukan si Boy! Kalau belum, simaksaja. Ya, saya bergegas menuju bangku kosong tempat si Boy duduk tadi. Danbenar, di sebelah saya ada seorang kakek tua, mungkin usia diatas 65. Duduk makan beberapa gorengan.

Tak lama kakek pun keluar menuju si penjual untuk membayar makanannya. Baru saja menyodorkan uang beberapa lembaran seribu dan dua ribu,si penjual langsung berkata:”Atos pa atos dibayarkeun ku budak eta.” Yang artinya:”Sudah Pa, sudah dibayarkan oleh pemuda itu!” Saya tidak bisa melihat ekspresi si kakek yang tertutup tiang gerobak si penjual. Yang pasti si kakek sekarang sedang bersyukur dengan hal ini, dan mendoakan si Boy.

Saturday, July 6, 2013

Pencarian Jodoh

Ngeceng! kata-kata ini yang keluar dari mulut seorang wanita. Sudah sangat lama sekali sejak terakhir kali saya pernah berfokus dalam hal ngeceng. Sekarang, aktivitas ini mungkin sudah hampir saya lupakan. Dimanapun saya berada sebenarnya saya selalu ngeceng. Tapi tidak pernah serius. Yang lebih parah justru yang awalnya hanya iseng, tapi saya malah merasa apa yang saya rasakan menjadi serius. Untungnya saya cukup bisa menyembunyikan fakta ini. Bahwa saya mudah jatuh cinta pada wanita yang menurut saya menarik, dan cerdas.

Wanita yang menurut saya cerdas selalu menarik hati saya. tapi justru wanita seperti ini juga yang membuat saya waspada. Pasalnya mereka membuat saya tidak bisa berpikir ketika saya ada di sekitar mereka. Tentang hal ini saya tidak suka, tapi harus saya akui. Kalau saya tertarik pada seseorang, biasanya bukan karena kecantikannya. Kebanyakan wanita cantik justru tidak menarik buat saya. Tapi lebih kepada bagaimana sang wanita dapat membawa diri, juga dari semua komunikasi antara saya dengan sang wanita. Dan semakin saya tertarik dengan seorang wanita, saya semakin tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Kebanyakan justru malah membuat saya terlihat konyol, atau menjadi diam.

Hal lainnya yang membuat saya harus berusaha keras untuk melupakan perasaan saya pada seseorang adalah koridor norma yang harus saya patuhi. Kepercayaan dan adat menjadi sebuah pintu koridor yang kuat menuju kebahagiaan orangtua saya. Padahal saya tinggal di lingkungan yang majemuk. Lagipula saya yang mencari jodoh, bukan orangtua saya. Apakah orangtua saya akan bisa menerima kebahagiaan saya kalau saya jatuh hati pada seseorang yang bukan dari suku batak misalnya? I really have no idea. Selain itu, biasanya saya merasa harus tahu apa yang saya kejar, baru saya akan mulai berusaha. If I don't know what or who will I chase, I will not have any serious passion to it.

Urusan jodoh menjadi hal yang sangat sulit bagi saya. I'd rather face a hard job. Saya percaya, saat waktunya tepat, I will manage to find and to own my own bride. Secepatnya, itu yang dapat saya katakan untuk merefleksikan harapan. Kecerdasan intelegensi dan kecerdasan emosional sangat menarik perhatian saya, sekarang saya tahu seperti apa tujuan saya.


Thursday, July 4, 2013

Road to Serpong


Orang ini lucu. Dari tulisan tangan, nama panggilan saya, tanda tangan dan paraf saya, dia berhasil mendeskripsikan saya dengan sangat tepat. Kebanyakan deskripsi tentang saya yang keluar dari mulutnya memang tepat, sampai akhirnya Dito sampai pada satu deskripsi:”Mas itu kalo pacaran orangnya romantis, tapi kalo udah nikah biasa saja”. Dalam pikiran saya”jlebb..”